Indonesia sebagai negara maritim, mempunyai prospek yang cukup cerah dalam memproduksi rumput laut dan turunannya, terbukti beberapa daerah yang telah menghasilkan berbagai jenis rumput laut yang mampu memasok bahan baku produk primernya, untuk meningkatkan produktivitasnya perlu ditingkatkan pula budidayanya, dan dengan kemajuan iptek serta sentuhan biotek dapat kiranya dihasilkan rumput laut yang mempunyai kualitas yang tinggi, dengan spesifikasi : kandungan komponen primer yang tinggi, umur panen lebih singkat, dan tahan terhadap penyakit serta kontaminan, bahkan kondisi lingkungan yang ekstrim sekalipun. Di beberapa negara timur jauh dan kepulauan pasifik rumput laut digunakan sebagai sumber makanan, sejumlah besar penduduk daerah maritim secara langsung ataupun tidak langsung mengkonsumsi atau berhubungan dengan berbagai bentuk produk alga laut, dimana rumput laut ini berguna bagi makanan manusia ataupun untuk hewan, juga obat-obatan, agar kultur, dan sebagai sumber bahan baku berbagai industri (Graft. 1982).
Setiap hari sekitar 168 species alga telah dikomersilkan, di Jepang, China, Taiwan dan Korea, diantaranya : Porphyra (nori), Laminaria (kombu), Undaria (wakane).
Di Jepang industri nori dan porphyra mencapai hasil panen seluas 60.000 ha.
Di negara-negara barat, rumput laut merupakan sumber “phycocoloid” agar, karagenan, dan alginat. USA merupakan industri dan konsumen terbesar dari pikokoloid, tetapi tetap menggunakan bahan baku impor, (Anggadireja dkk, 1996). Oleh karena itu maka kesempatan Indonesia untuk memproduksi secara besar-besaran di perairan Indonesia yang cocok bagi pertumbuhan alge sebagai bahan baku pikokoloid untuk memenuhi kebutuhan negara-negara pengimpor. Bahkan produk jadipun merupakan tantangan bagi Indonesia untuk memproduksinya. Dengan teknologi proses yang sudah dimodifikasi tentu mampu menghasilkan produk bermutu sesuai dengan standar Internasional, tinggal bagaimana cara mempromosikannya ke negera-negara pengguna, sementara kebutuhan lokalpun masih di dominasi oleh produk impor, padahal kita mampu memproduksinya sendiri.
Rumput laut merupakan bagian dari tanaman perairan (alge) yang diklasifikasikan ke dalam 2 kelas yaitu makro alge dan mikro alge. Rumput laut termasuk pada kelas makro alge, yaitu penghasil bahan-bahan hidrokoloid, selain mengandung bahan hidrokoloid sebagai komponen primernya, rumput lautpun mengandung komponen sekunder yang kegunaannya cukup menarik yaitu sebagai obat-obatan dan keperluan lain yang cukup penting seperti kosmetik dan industri lainnya.
Rumput lautpun banyak digunakan sebagai bahan makanan secara langsung karena mempunyai kandungan gizi yang cukup baik sehingga dapat menyehatkan.
Hipotesis : Luas perairan Indonesia cukup potensial bagi budidaya penghasil makro alge, artinya dapat menghasilkan bahan baku atau produk jadi yang cukup besar dengan tantangan produk berstandar Internasional, sehingga impor dapat dikurangi bahkan ekpor dapat ditingkatkan.

§ Agar-agar 1. Terpenoid berhalogen, pada alga merah
§ Karagenan 2. Aktogenin bromine, sebagai anti biotik
§ Alginat 3. Halogen & klorin, pada alga biru
§ Fulcelaran 4. Terpenoid aromatik, pada alga coklat
5. Laminin – dari laminaria angustata, -
sebagai hipotensif
6. Isoprenoid – dari plocanium cartilagine-
um punya efek hiperrefleksia
7. Terpen – dari plocanium costatum,
sebagai insektisida
8. Di terpen alkohol – dari caulerpa Sp =
caulerpol dalam garam asetat
9. Diethyol –A dan Pachydietyol A – dari
Dictyotis Sp.
Potensi Rumput Laut Dalam Industri Obat
| Anti Hipotensi | Anti Bloodcholesterol | Anti Toksik |
| Anti Sedatif | Anti Hiperrefleksia | Anti Bakteri |
| Anti Cholinergic | Anti Imflamatory | Anti Fungal |
| Anti Tumor | Anti Confulsant | Anti Piretik |
| Anti Lifemic | Anti Inotropic | Anti Oksidasi |
Laminaria Japonica, Sargasum fusi forme, Ulva Sp, Porphyra Sp untuk Beri-beri, Cacingan, Gondongan, Batuk, Bronhitis, Asma, Gangguan Kelenjar, Anti Piretik dan Lotin Penyegar.
Kandungan gizi rumput laut : Karbohidrat : 39 - 51 %
Protein : 17,2 - 27,13 %
Lemak : 0,08
Abu : 1,5 %
Mineral : K, Ca, P, Na, Fe, I
Vitamin : A, B1, B2, B6, B12, C (caroten)
Sifat-sifat Karagenan
Karagenan diberi nama berdasarkan persentase kandungan ester sulfatnya : Kappa : 25-30%, Iota : 28-35% dan lambda : 32 –39%. Larut dalam air panas (70oC), air dingin, susu dan larutan gula, sehingga sering digunakan sebagai pengental/penstabil pada berbagai minuman atau makanan. Dapat membentuk gel dengan baik, sehingga banyak digunakan sebagai penggel dan thichemen.
Aplikasi Karagenan
Karagenen dapat diaplikasikan pada berbagai produk sebagai pembentuk gel atau penstabil, pensuspensi, pembentuk tekstur emulsi dll, terutama pada produk-produk jeli, jamu, saus, permen, sirup, puding, dodol, salad dressing, gel ikan, nugget, produk susu, dll, bahkan juga untuk industri kosmetik, tekstil, cat, obat-obatan, pakan ternak dll.
Aplikasi Agar-agar
Agar-agar paling banyak digunakan sebagai hidrokoloid, terutama pada pangan, farmasi dan kosmetik. Bidang mikrobiologi dan bioteknologi lebih banyak menggunakan agar-agar dengan kemurnian yang tinggi, yang hanya dapat dipenuhi oleh produk impor, bahkan media pertumbuhan mikroorganisme dan preparasi kultur jaringanpun, menggunakan agar-agar impor yang sangat banyak, yang merupakan tantangan bagi kita untuk merebutnya.
KESIMPULAN
Dari contoh-contoh tersebut dapat disarikan bahwa betapa besarnya potensi rumput laut di Indonesia untuk dimanfaatkan diberbagai bidang : industri, kesehatan, farmasi, kosmetik, pangan, tekstil dll, baik dari komponen primernya ataupun komponen sekundernya, khususnya yang menggunakan komponen hidrokoloid. Akhirnya bagaimana upaya kita untuk meningkatkan budidaya dan produksinya, sehingga setiap tempat yang berpotensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Kita harus yakin bahwa kita mampu memproduksi berbagai produk primer dan sekunder dari rumput laut yang cukup berlimpah di perairan kita sendiri, bahkan dengan mutu yang baik (Internasional) yang mampu menyaingi produk impor. Contoh untuk karagenan dan agar-agar yang diproses dengan baik sesuai standar mutu Internasional tentu akan mampu menutupi kebutuhan lokal yang sampai saat ini 80% masih dipenuhi oleh impor, khususnya agar-agar yang banyak digunakan untuk media pertumbuhan mikroorganisme dilaboratorium mikrobiologi dan biotek yang semuanya produk impor. Sudah saatnya kita memproduksi sendiri dengan mutu yang sama dan dapat bermanfaat unrtuk sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang membutuhkannya. Disamping itu diversifikasi produk dari agar-agar dan caragenan-pun dapat dijadikan produk-produk yang menyehatkan karena berserat tinggi.